PERBANDINGAN KADAR GLUKOSA DARAH SETELAH MENGKONSUMSI NASI PUTIH DAN NASI MERAH PADA TIKUS (RATTUS NORVEGICUS) YANG DIINDUKSI ALLOXAN
Rachmawati Elda Julia Nurfahmy*, Ayi Furqon,SKM.,M.Biomed*, Arina Novilla,S.Pd.,M.Si*
*Mahasiswa, **Dosen Pembimbing
Analis Kesehatan (D III) Stikes A.Yani Cimahi
ABSTRAK
Diabetes melitus adalah salah satu penyakit degeneratif. Menurut data World Health Organization (WHO), Indonesia menempati urutan keempat terbesar dalam jumlah penderita diabetes melitus di dunia.
Nasi merah merupakan salah satu makanan pokok masyarakat Indonesia yang dapat menjadi alternatif nasi putih, bahkan diketahui dapat menurunkan risiko diabetes karena memiliki glycemic index yang rendah dibandingkan nasi putih.
Penelitian bertujuan untuk mengetahui konsentrasi kadar glukosa darah pada hewan coba (Rattus norvegicus) yang mengkonsumsi nasi putih dan nasi merah. Rancangan penelitiannya yaitu 9 tikus (Rattus norvegicus) jantan diberi alloxan 100 mg/kg untuk menaikkan kadar glukosa darah selama 16 hari pada hari ke-0,4,8, dan 12. Tikus dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok pelet sebagai kontrol, nasi putih, dan nasi merah. Pada hari ke-24 dilihat perbedaan kadar glukosa darahnya menggunakan metode GOD-PAP.
Pada hari ke-24 di dapatkan hasil rata-rata pada kelompok pelet sebagai kontrol 417±63 mg/dL, kelompok nasi putih 499±157 mg/dL, sedangkan pada kelompok nasi merah 333±52 mg/dL dengan p-value 0,585.
Berdasarkan hasil penelitian, maka diperoleh kesimpulan bahwa belum diperoleh perbedaan glukosa darah antara nasi putih dan nasi merah secara signifikan (α= 0,05).
PENDAHULUAN
Diabetes melitus saat ini merupakan penyakit yang banyak dijumpai. Prevalensinya terus meningkat dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 5,4% (American Diabetes Association, 2011, Diabetes Statistics,
http://www.diabetes.org, diperoleh tanggal 24 Januari 2012). Data yang didapatkan pada tahun 2003, total prevalensi di seluruh dunia mencapai 13,8 juta jiwa. Di Indonesia sendiri, penyakit ini masih menjadi momok menakutkan. Menurut data World Health Organization (WHO), Indonesia menempati urutan keempat terbesar dalam jumlah penderita diabetes melitus di dunia. Pada tahun 2009, terdapat sekitar 8 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes. Bahkan pada 2030, jumlah penderita penyakit ini diprediksi meningkat tajam menjadi 21,3 juta orang. Ironisnya dari jumlah itu, baru 50% yang sadar mengidapnya dan diantara mereka hanya 30% yang datang berobat teratur (Istianto, 2009:1).
Penyakit diabetes melitus ini dapat menyebabkan komplikasi dan tidak dapat disembuhkan, tetapi dengan kemauan keras penyakit ini dapat dikendalikan dan dengan berbekal pengetahuan yang cukup dan keinginan yang kuat maka diabetes melitus ini bukan penyakit yang menakutkan. Diabetes melitus dapat dicegah dengan menerapkan hidup sehat sedini mungkin yaitu dengan mempertahankan konsumsi sehari-hari yang sehat dan seimbang dengan meningkatkan konsumsi sayuran, buah dan serat, membatasi makanan yang tinggi karbohidrat, protein dan lemak, mempertahankan berat badan yang normal sesuai dengan umur dan tinggi badan serta olah raga teratur sesuai umur dan kemampuan.
Nasi putih merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia, namun sebuah penelitian dari Faculty of Allied Health Sciences, National University of Malaysia, Kuala Lumpur menemukan bahwa mengkonsumsi nasi putih sangat tidak sehat untuk para penderita diabetes. Alasannya, nasi putih memiliki glycemic index yang tinggi. Nasi merah merupakan salah satu makanan masyarakat Indonesia yang dapat menjadi alternatif nasi putih, bahkan diketahui dapat menurunkan risiko diabetes karena memiliki glycemic index yang rendah dibandingkan nasi putih (Karupaih,
et.al,. 2011:6).
Menurut Ari (2011) 50 gr perhari nasi putih atau sepertiga dari penyajian perhari dengan sejumlah nasi merah berkaitan dengan menurunnya risiko diabetes tipe 2 sebesar 16 %. Sedangkan jika diganti seluruhnya dengan nasi merah menurunkan risiko diabetes hingga 36%.
Menurut Suharmiati (2003:140) alloxan merupakan bahan kimia yang digunakan untuk menginduksi diabetes pada binatang percobaan. Efek diabetogenetiknya bersifat antagonis dengan glutathion yang bereaksi dengan gugus SH nya. Menurut El-Missiry,
et.al., (2000:98) kenaikan kadar glukosa darah setelah diinduksi alloxan dengan dosis 100mg/kg yaitu ±180.39.
Berdasarkan latar belakang di atas dapat diambil suatu permasalahan yaitu: Seberapa besar peningkatan kadar glukosa darah pada hewan coba setelah mengkonsumsi nasi putih dan nasi merah.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur kadar glukosa darah pada hewan coba setelah mengkonsumsi nasi putih dan nasi merah. Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi tentang manfaat nasi merah terhadap penderita diabetes melitus.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen, yaitu memberikan perlakuan tertentu terhadap subjek penelitian untuk membangkitkan sesuatu kejadian/keadaan yang akan diteliti bagaimana akibatnya.
Sampel yang digunakan adalah serum yang berasal dari 9 ekor tikus yang sudah diberi perlakuan. Sampel yang diperoleh memakai rumus menurut Snedecor and Cochran (1991, dalam Dell,
et.al., 2002:212)
n = 1 + 2C (s/d)2
ket : n = jumlah sampel
C = constant dependent
s = standar deviasi
d = selisih jumlah signifikan
2C = 21 d = 20
Ket : n = jumlah sampel
S2x = standar deviasi kelompok
Rerata kadar glukosa darah pada hari ke-
0 dan 4 yaitu 92 dan 127; 98 dan 131; 90 dan 123
dengan Rata-Rata 93.3 dan 127.0
dan Sd 4.2 dan 4.0
Sd = √(((3-1) 〖4,2〗^2+(3-1) 4^2)/(3+2-2)) =√((35,3 + 32)/3) = 4,7
n = 1 + 2C (s/d)2
= 1 + 21 (4,7/20)2
= 2
Jadi jumlah minimal sampel per kelompok adalah 2, tetapi karena untuk menjaga drop-out maka sampel per kelompok adalah 3.
Data hasil penelitian kadar glukosa darah diambil di Laboratorium Kimia Klinik Stikes Ahmad Yani Cimahi, dilakukan dengan cara mengukur kadar glukosa darah tikus menggunakan serum yang diukur secara spektrofotometri dengan Fotometer 4010 yang diprogram absorban. Hasil yang terlihat dimasukkan ke dalam tabel perhitungannya.
Untuk mengetahui pengaruh pemberian nasi putih dan nasi merah terhadap glukosa darah tikus, dilakukan pengolahan data menggunakan SPSS V.17.
CARA KERJA
Pada hari ke-0 hewan uji dari ketiga kelompok percobaan diukur kadar glukosa darahnya untuk memastikan bahwa kadar glukosa darahnya masih masuk dalam nilai rujukan yaitu 85 – 132 mg/dL. Kemudian hewan coba diberi aloksan 100 mg/kg berat badan setiap 4 hari sekali sebanyak 4 kali mulai hari ke- 0 sampai dengan hari ke-12. Penyuntikkan dilakukan secara intraabdomen. Kemudian dilakukan pengukuran kadar glukosa darah pada hari ke-16 untuk memastikan bahwa alloxan sudah merusak sel beta pankreas hewan coba. Setelah itu, hewan coba diberi perlakuan pelet, nasi putih dan nasi merah selama 7 hari. Kemudian dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah pada hari ke-24 untuk mengetahui perbedaan kadar glukosa darah dari ketiga kelompok tersebut. Sebelum dilakukan pengukuran kadar glukosa darah, hewan uji dipuasakan selama 16 jam. Selama dipuasakan, sekam dikeluarkan dari kandang, agar tidak dimakan oleh hewan coba. Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan dengan menggunakan fotometer 4010. Pengambilan darah pada hari ke-0 dan hari ke-16 dilakukan pada pembuluh darah ekor hewan uji untuk data awal dan pada hari ke-24 dilakukan pengambilan darah yang berasal dari jantung untuk data setelah diberikan perlakuan. Nasi putih dan nasi merah diberikan dengan dicampur oleh pelet. Konsentrasi beras yang diberikan pada hewan uji sebesar 25-30 g/hari.
HASIL PENELITIAN
Pemeriksaan kadar glukosa darah dari setiap ekor tikus, diperiksa menggunakan fotometer Clinicon 4010. Untuk mengecek kerja dari alloxan dalam merusak pankreas diperiksa dengan cara pemeriksaan kadar glukosa yang diambil dari darah ekor hewan uji. Sedangkan data setelah perlakuan pemberian nasi putih dan nasi merah selama 7 hari, dilakukan pemeriksaan glukosa yang berasal dari darah jantung.
Berdasarkan prosedur tetap tentang pengkalibrasian alat fotometer nilai rujukannya adalah < 1,000. Pengkalibrasian alat pada hari ke-0, hari ke ke-16, dan hari ke-24 secara berurutan di dapatkan nilai 0,020; 0,037; dan 0,044. Nilai kalibrasi filter pada alat dengan panjang gelombang 546 nm yang didapat pada hari ke-0,16, dan 24.
Berdasarkan batas toleransi optik yaitu ≤ 1,000, maka dapat disimpulkan bahwa filter alat dengan panjang gelombang 546 nm pada hari ke-0, hari ke-16, dan hari ke-24 dalam kondisi baik.
Kalibrasi alat fotometer 4010 yang dilakukan berfungsi untuk pengecekan filter panjang gelombang 546 nm. Hasil yang didapat adalah semua nilai kalibrasi baik, sehingga dapat dilakukan pemeriksaan kadar kontrol serum normal dan patologis pada setiap pemeriksaan.
Berdasarkan Kit Serodos (Human) Kontrol Normal dengan No. Lot 6872 dan Kontrol Patologis dengan No. Lot 6799 “Target Value/Sollwerte/Valore Meta/Valeurs Souhaitees” nilai rujukan Kontrol adalah sebagai berikut :
Nilai Rujukan Kontrol Normal = 90,7 – 125 mg/dL (108 mg/dL)
Nilai Rujukan Kontrol Patologis = 228 – 315 mg/dL (272 mg/dL)
Berdasarkan data pada tabel 2, maka dapat dihitung kadar kontrol serum normal yang sesungguhnya yaitu 100 mg/dL. Sementara kadar kontrol serum patologis didapatkan 257,89 mg/dL (uraian perhitungan terdapat dalam lampiran). Kedua hasil tersebut masuk dalam rentang nilai kontrol masing-masing.
Berdasarkan nilai rujukan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa semua kadar serum kontrol yang didapat masuk ke dalam rentang nilai nilai rujukan.
Pemeriksaan kadar kontrol serum berfungsi untuk melihat akurasi dan presisi. Hasil yang didapat adalah semua kadar kontrol serum masuk dalam rentang nilai yang telah ditetapkan pada kit insert. Maka dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah pada sampel.
Pemeriksaan kadar glukosa darah pada hari ke-0,hari ke-16, dan hari ke-24 berbeda-beda. Rata-rata kadar tertinggi yang di dapat pada hari ke-0 adalah pada kelompok pelet, yaitu 126 mg/dL. Sementara pada hari ke-16 pada kelompok nasi putih dan pelet, yaitu 406 mg/dL. Dan pada hari ke-24 pada kelompok nasi putih dan pelet, yaitu 600 mg/dL.
Setelah dilakukan analisis deskriptif / univariat, kemudian dianalisis dengan menggunakan uji ANOVA untuk melihat perbedaan kadar glukosa serum antar kelompok. Uji ANOVA dilakukan menggunakan variabel glukosa darah, jenis perlakuan dan lama perlakuannya.
Berdasarkan variabel kadar glukosa darah dan jenis perlakuan, tanpa melihat hari perlakuannya maka dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah. Pemeriksaan kadar glukosa darah pada kelompok I (pelet) didapatkan hasil rata-rata 306 mg/dL, dan pada kelompok II (nasi putih dan pelet) didapatkan hasil rata-rata 333 mg/dL, sedangkan pada kelompok III (nasi merah dan pelet) didapatkan hasil rata-rata 253 mg/dL.
Dilihat dari jenis perlakuannya, secara keseluruhan hasil rata-rata kadar glukosa darah memiliki kadar yang berbeda, namun perbedaan ini tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan secara statistik. Hal ini terlihat dari nilai p-value 0,111 > α= 0,05.
Nilai p-value ini rancu sehingga perlu dilihat perbedaan hasil rata-rata dengan memperhatikan kadar glukosa darah dan hari perlakuannya, tanpa melihat jenis perlakuan. Hasil perbandingan kelompok perlakuan pada hari ke-0 yaitu 122 mg/dL, dan pada hari ke-16 yaitu 362 mg/dL, sedangkan pada hari ke-24 yaitu 408 mg/dL.
Secara keseluruhan hasil rata-rata kadar glukosa darah memiliki kadar yang berbeda, perbedaan ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan secara statistik. Hal ini terlihat dari nilai p-value 0,000 < α= 0,05. Tetapi hasil ini masih terdapat kerancuan, karena tidak memperhatikan jenis perlakuan (two way Anova test).
Untuk menjawab kerancuan-kerancuan tersebut maka harus dilakukan uji ANOVA dengan memperhatikan kadar glukosa darah, jenis perlakuan, dan hari perlakuan.
Hasil perbandingan pelet, nasi putih dan pelet, serta nasi merah dan pelet pada setiap harinya menunjukkan kenaikkan hasil rata-rata glukosa serum yang berbeda-beda. Pada hari ke-0 setiap hewan coba belum mendapatkan perlakuan apapun. Pada hari ke-0 rata-rata kadar glukosa pada kelompok hewan coba yang mengkonsumsi pelet adalah 126 mg/dL, rata-rata kadar glukosa serum kelompok hewan coba yang mengkonsumsi nasi putih dan pelet adalah 118 mg/dL, sedangkan kelompok hewan coba yang mengkonsumsi nasi merah dan pelet memiliki rata-rata glukosa serum 123 mg/dL.
Kadar glukosa darah pada hari ke-16 menunjukkan kadar glukosa darah setelah diinduksi alloxan dengan dosis 100 mg/BB. Hasil yang di dapat pada kelompok pelet adalah 376 mg/dL, pada kelompok nasi putih dan pelet adalah 406 mg/dL, sedangkan pada kelompok nasi merah dan pelet adalah 303 mg/dL.
Pada hari ke-24 merupakan hasil yang menunjukkan kadar glukosa darah setelah pemberian perlakuan yang berbeda. Hasil kadar glukosa darah pada kelompok pelet adalah 417 mg/dL, sementara pada kelompok nasi putih dan pelet adalah 499 mg/dL, dan pada kelompok nasi merah dan pelet adalah 333 mg/dL.
Hasil perbandingan kelompok perlakuan pada kelompok I (pelet), kelompok II (nasi putih dan pelet), dan kelompok III (nasi merah dan pelet) dapat diketahui bahwa kadar glukosa darah pada kelompok pelet dengan nasi putih dan pelet tidak menunjukkan perbandingan yang signifikan secara statistik yang terlihat pada p-value 1,000 > α= 0,05 dimana jika nilai perlakuan lebih besar dari kemaknaan sebesar alfa maka dikatakan tidak signifikan.
Begitu pula antara kelompok tikus yang mengkonsumsi pelet dengan nasi merah dan pelet serta kelompok tikus yang mengkonsumsi nasi putih dan pelet dengan nasi merah dan pelet, masing-masing secara berurutan memiliki nial p-value 0,484 dan 0,125.
Nilai-nilai probabilitas tersebut lebih besar dari nilai α = 0,05. Dengan demikian secara keseluruhan kelompok perlakuan selama 24 hari, belum terlihat perbandingan yang signifikan.
Hasil perbandingan kelompok menurut lama perlakuannya pada hari ke-0, dan hari ke-16 menunjukkan perbandingan yang signifikan secara statistik yang terlihat pada p-value 0,000 < α= 0,05 dimana jika nilai perlakuan lebih kecil dari kemaknaan sebesar alfa maka dikatakan signifikan.
Begitu pula antara hari ke-0, dan hari ke-24 memiliki nilai p-value yang sama dengan hari ke-0, dan hari ke-16 yaitu 0,000. Sementara pada hari ke-16, dan hari ke-24 menunjukkan perbandingan yang tidak signifikan secara statistik yang terlihat pada p-value 0,703 > α= 0,05.
Secara keseluruhan nilai-nilai probabilitas tersebut lebih kecil dari nilai α = 0,05. Dengan demikian secara keseluruhan kelompok perlakuan selama 24 hari, terlihat perbandingan yang signifikan.
Hasil perbandingan antara kelompok tikus menurut lama perlakuannya menunjukkan perbandingan yang signifikan secara statistik yang terlihat pada p-value 0,000 < α = 0,05, dimana jika nilai perlakuan lebih kecil dari kemaknaan sebesar alfa maka dikatakan signifikan.
Sedangkan antara kelompok tikus menurut jenis perlakuaanya memiliki p-value 0,111. Dilihat dari perbandingan antara kelompok menurut lama perlakuan dan jenis perlakuannya memiliki p-value 0,585. Nilai-nilai probabilitas tersebut lebih besar dari nilai α = 0,05. Dengan demikian secara keseluruhan kelompok perlakuan selama 24 hari, belum terlihat perbandingan yang signifikan.
Pembahasan
Tikus putih (Rattus norvegicus) dijadikan objek penelitian karena tikus dapat beradaptasi baik dengan lingkungan yang baru. Selain itu tikus juga memiliki karakteristik biologi yang mirip manusia dan hampir identik secara genetis. Menurut National Human Genome Research Institute, alasan menggunakan tikus sebagai hewan coba karena dapat membantu menyeragamkan hasil percobaan (Wang Jinheng, 2009, Sumbangan Tikus Percobaan Untuk Medis,
http://indonesian.cri.cn/381/2009/06/28/1s98439.html, diperoleh tanggal 28 Juni 2012).
Pemeriksaan kadar glukosa darah pada hari ke-0 untuk kelompok pelet yaitu 126 mg/dL. Sementara untuk kelompok nasi putih dan nasi merah masing-masing secara berurutan menunjukkan rata-rata kadar 118 mg/dL, dan 123 mg/dL. Menurut Kohn, and Clifford (2002) dalam Braslasu,
et.al (2007:121) nilai rujukan glukosa pada tikus adalah 85-132 mg/dL. Hal ini menunjukkan bahwa semua kelompok memiliki rata-rata kadar glukosa darah yang sesuai dengan nilai rujukan.
Rata-rata kadar glukosa darah pada hari ke-16 untuk kelompok pelet memiliki rata-rata kadar 376 mg/dL. Sementara untuk kelompok nasi putih memiliki rata-rata kadar 406 mg/dL. Untuk kelompok nasi merah memiliki rata-rata kadar 303 mg/dL. Menurut Watkins,
et.al (2008:2) Alloxan bereaksi dengan merusak substansi esensial di dalam sel beta pankreas sehingga menyebabkan berkurangnya granula – granula pembawa insulin di dalam sel beta pankreas. Semua rata-rata kadar glukosa darah pada hari ke-16 menunjukkan bahwa kadar glukosa darah meningkat. Hal ini disebabkan karena organ pankreas pada tikus sudah terganggu.
Jika kerusakan pankreas secara permanen menyebabkan gangguan sekresi insulin, maka pengaturan metabolisme glukosa dalam sirkulasi saat kadarnya tinggi sulit dikendalikan. Dengan demikian salah satu cara untuk mengendalikan glukosa dalam darah adalah dengan mengatur asupan karbohidratnya, yaitu dengan asupan makanan rendah glycemic index. Pada umumnya masyarakat di Indonesia mengkonsumsi nasi sebagai sumber karbohidrat utamanya. Menurut penelitian Hu (2009:7) salah satu perbedaan nasi putih dan nasi merah dapat terlihat dari nilai glycemic index yang terkandung dalam nasi tersebut. Glycemic index adalah skala angka yang digunakan untuk menunjukkan seberapa cepat dan seberapa tinggi suatu makanan tertentu sehingga dapat meningkatkan kadar glukosa darah. Glycemic index nasi putih yaitu 87 sementara nasi merah yaitu 58. Pada hari ke-24 rata-rata kadar glukosa darah untuk kelompok pelet memiliki kadar 417 mg/dL. Untuk kelompok nasi putih memiliki rata-rata kadar 474 mg/dL. Sementara untuk kelompok nasi merah memiliki rata-rata kadar 333 mg/dL. Semua hasil rata-rata pada hari ke-24 menunjukkan adanya perbedaan dari setiap kelompok.
Berdasarkan hasil penelitian tikus dengan kondisi pankreas yang rusak, terlihat bahwa kadar glukosa pada tikus yang mengkonsumsi nasi merah lebih rendah dibandingkan pada tikus yang mengkonsumsi nasi putih seperti terlihat pada gambar 4.3. Hal ini dikarenakan bahwa nasi putih memiliki glycemic index yang lebih tinggi dibandingkan nasi merah.
Perbedaan kadar glukosa setelah mengkonsumsi nasi putih dan nasi merah menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan (p ≥ 0.05). Karena pada penelitian Braslasu, dkk (2007:109) Perbedaan yang signifikan terjadi setelah mendapatkan perlakuan selama 30, 60, 90 hari. Sementara perlakuan yang dilakukan dalam penelitian, hanya 7 hari sehingga hasil kadarnya tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (p ≥ 0.05).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan kesimpulan Perlakuan diet nasi putih dan nasi merah selama 7 hari setelah diinduksi alloxan 16 hari tidak menyebabkan perbedaan glukosa darah yang signifikan secara statistik (p ≥ 0.05).
DAFTAR PUSTAKA
American Diabetes Association. Diabetes Statistics [Internet]. 2011 [cited 2012 Januari 24]. Available from:
http://www.diabetes.org
Ari. Konsumsi Beras Merah Menurunkan Risiko Diabetes Mellitus [Internet]. 2011 [cited 2011 September 13]. Available from:
Istianto, R. (2009). Hubungan Antara Faktor Demografi dan Indeks Massa Tubuh Dengan Prevalensi DM pada Masyarakat Kota Ternate. Skripsi. Fakultas Kedokteran Universaitas Indonesia.
Karupaiah, Aik, Heen, Subramaniam, Bhuiyan, Fasahat, Zain, and Ratnam. (2011). A Transgressive Brown Rice Mediates Favourable Glycaemic And Insulin Responses.
Suharmiati. (2003). Pengujian Bioaktifitas Anti Diabetes Melitus Tumbuhan Obat. Cermin Dunia Kedokteran, (140), 8-13.
Missiry and Gindy. (2000). Amelioration of Alloxan Induced Diabetes mellitus and Oxidative Stress in Rats by Oil of Eruca sativa Seeds. Zoology Departments Cairo Egypt, 44, 97-100.
Dell, Holleran, and Ramakrishnan. (2002). Sample Size Determination. Filar Journal, 43(04),207-213.
Braslasu, Bradatan, Cornila, Savulescu, and Cojmaleata. (2007). Normal Blood Glucose In White Wistar Rat and its Channges Following Anasthesi. Lucrari Stiintifice Meidcina Veterinara, 11,120-123.
Watkins, Cooperstein, and Lazarow. (2008). Effect Of Alloxan On Permeability Of Pancreatic Islet Tissue In Vitro. American Journal of Physiology, 207(02), 436-440.
Hu, F. (2009). Can Brown Rice Blunt an Epidemic?. Harvard Public Helath Reviem, 02, 5-9.